Lompat ke isi

Komunikasi pemerintah di Kerajaan Asiria Baru

Ini adalah artikel bagus. Klik untuk informasi lebih lanjut.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Seiring perluasan wilayah Kerajaan Asiria Baru, adanya sistem komunikasi cepat mempermudah koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Komunikasi pemerintah di Kerajaan Asiria Baru digunakan oleh Raja Asiria dan para pegawainya untuk mengirim pesan secara cepat dan aman sejak awal milenium pertama sebelum Masehi. Inovasi penting yang dilakukan Asiria adalah penggunaan sistem pembawa surat berantai (Bahasa Asiria: kalliu) yang merupakan hal baru pada masa itu. Pesan dikirim melalui surat yang dibawa oleh tentara yang mengendarai bagal—persilangan kuda betina dan keledai jantan—dan dibawa melalui jalan raya kerajaan. Pada tiap jarak tertentu, terdapat pos perhentian tempat pembawa surat beserta bagalnya bisa beristirahat tetapi suratnya diberikan kepada tentara lain yang langsung meneruskan perjalanan dengan hewan tunggangan baru. Dengan cara ini, surat dapat bergerak tanpa berhenti. Pengiriman surat secepat ini belum pernah ada sebelumnya. Setelah pemasangan telegraf pada tahun 1865 barulah ada sistem komunikasi yang lebih cepat di Timur Tengah.

Efisiensi dari sistem ini merupakan salah satu faktor berhasilnya dominasi Kerajaan Asiria Baru di Timur Tengah, serta menjaga integrasi di kerajaan besar tersebut. Inovasi ini kemudian diadopsi oleh kerajaan-kerajaan besar lainnya, termasuk Kekaisaran Persia yang kelak mewarisi dan mengembangkan infrastruktur yang telah dibangun Asiria.

Sejarah

Kemungkinan, sistem komunkasi Asiria mulai dibangun sejak zaman Salmaneser III (memerintah 858–824 SM).

Kerajaan Asiria Baru atau Kerajaan Asyur adalah sebuah imperium atau kerajaan besar yang berpusat di Mesopotamia pada zaman besi. Pendiri kerajaan Adad-nirari II (memerintah 911–891 SM) serta para penerusnya hingga abad ke-7 SM memperluas kerajaan tersebut hingga menguasai hampir seluruh Timur Tengah, dari Mesir di sebelah barat hingga Teluk Persia di sebelah timur.[1] Seiring dengan perluasan wilayah ini, kerajaan ini menemukan banyak inovasi yang diperlukan di bidang pemerintahan dan infastruktur. Banyak inovasi ini kemudian akan ditiru kerajaan-kerajaan besar lainnya, seperti Romawi dan Persia.[2]

Asiria mengembangkan sistem komunikasinya untuk mempermudah melaksanakan pemerintahan di wilayahnya yang luas. Kemungkinan sistem ini dimulai sejak zaman Salmaneser III (memerintah 858–824 SM), pada saat Asiria sudah menjadi kekuatan terbesar di Timur Tengah. Untuk menjaga kestabilan pemerintahan dan integrasi seluruh wilayah kerajaan, diperlukan sistem komunikasi yang cepat dan dapat diandalkan untuk sang raja, para pegawai istana serta gubernur-gubernur yang menjalankan pemerintahan daerah.[3]

Komponen

Bagal

Asiria merupakan peradaban pertama yang menggunakan bagal untuk pengangkutan jarak jauh dengan medan sulit. Hal ini masih dipraktikkan hingga sekarang. [4] Gambar ini memaparkan barisan bagal di daerah Grand Canyon, Amerika Serikat.

Hampir semua pembawa surat jarak jauh menunggangi bagal yang merupakan hasil persilangan kuda betina dan keledai jantan. Asiria adalah kebudayaan pertama yang menggunakan hewan tersebut untuk tujuan ini. Hewan ini menggambungkan kekuatan seekor kuda serta kemampuan adaptasi seekor keledai. Beternak dan melatih bagal untuk tujuan ini sangat mahal karena banyak yang perlu diajarkan dan bagal bersifat mandul. Hewan ini tak tergantikan untuk pengangkutan di wilayah kekuasaan Asiria yang banyak bermedan dan beriklim sulit karena kemampuannya beradaptasi dan ongkos perawatannya yang relatif murah. Hewan ini juga dapat menyeberangi sungai kecil yang banyak mengalir di wilayah Mesopotamia. Para pembawa surat biasanya membawa dua ekor bagal, sehingga ia bisa menggilir tunggangannya agar tidak lelah, dan ia tidak terdampar kalau-kalau tungangannya terkena cedera.[5][4]

Pengendara berantai

Surat-surat resmi dapat diantarkan oleh seorang utusan tepercaya, atau oleh pengendara-pengendara berantai.[6] Sistem pengendara berantai adalah penemuan Asiria dan membuat pesan bisa dikirim dengan jauh lebih cepat.[6] Dengan sistem berantai, tidak perlu ada satu orang yang menempuh jarak dari asal sampai tujuan.[6] Seorang pembawa surat cukup menempuh jarak tertentu, lalu di pos perhentian ia meneruskan suratnya ke pengendara lain yang menunggu dengan tunggangan yang masih segar.[6] Karena hewan tunggangan dan pengendaranya diganti pada tiap pemberhentian, pengiriman surat menjadi lebih cepat dan tidak perlu menunggu istirahat.[7] Dalam sistem Asiria, pembawa surat adalah tentara kerajaan dan hewannya disediakan oleh pihak militer.[8]

Walaupun sistem berantai jauh lebih cepat, kadang surat juga dikirim dengan seorang utusan tepercaya. Ini biasa dilakukan ketika pesan yang dibawa sangat sensitif, atau perlu tatap muka untuk menerima jawaban, dan ketika kecepatan komunikasi tidak terlalu penting. Kadang surat dikirim ganda melalui pengendara berantai dan melalui utusan khusus, seperti contoh sebuah surat untuk raja Sargon II dari putranya Sanherib.[6]

Jalan raya

Kerajaan Asiria Baru juga membangun sistem jalan raya yang menghubungkan seluruh bagian kerajaan. Jalan raya ini, yang disebut hūl šarri (atau harran šarri dalam dialek Babilonia, artinya "jalan kerajaan"), kemungkinan dikembangkan dari jalan-jalan yang digunakan tentara Asiria untuk pergerakan pasukan. Pembangunan jalan ini mencapai puncaknya pada zaman Salmaneser III dan Tiglat-Pileser III (memerintah 745–727 SM).[9]

Pos perhentian

Seperti halnya karvansaray yang kelak dibangun di dunia Islam (gambar: karvansaray Tash Rabat, Tajikistan), Asiria juga mendirikan pos perhentian yang merupakan bangunan tempat tinggal yang diisi berbagai keperluan untuk musafir jarak jauh. Namun, tak seperti sistem karvansaray, pos perhentian Asiria hanya boleh dipakai pegawai kerajaan.[10]

Sebagai bagian dari sistem komunikasi, para gubernur atau penguasa daerah di Asiria bertanggungjawab membangun dan merawat pos-pos perhentian yang tersebar di sepanjang sistem jalan raya kerajaan.[3] Pos-pos ini disebut bēt mardēti ("rumah dalam tahap perjalanan").[3] Pada pos-pos ini, pembawa surat yang telah berjalan jauh memberikan suratnya kepada rekannya yang masih segar.[11] Kadang pos-pos ini terletak di tengah kota, seperti sebuah pos di Nippur, dan kadang terletak di lokasi terpencil.[3] Jarak antarpos umumnya berkisar antara 35 atau 40 kilometer.[8] Pos-pos ini menjadi tempat tinggal dan tempat menyimpan bekal untuk para pembawa surat, utusan-utusan kerajan dan hewan tunggangan mereka.[10]

Pos-pos ini mirip dengan sistem karvansaray yang kelak dibangun di dunia Islam untuk para pedagang jarak jauh, yang sama-sama dibangun sebagai tempat tinggal dan menyimpan bekal untuk orang-orang yang berjalan jauh.[10] Namun, tak seperti karvansaray yang dibuka untuk umum, pos perhentian di sistem Asiria hanya terbuka untuk pegawai negara yang sedang bertugas.[10] Saat ini, belum ditemukan peninggalan pos-pos perhentian ini,[10] dan sejarawan hanya mengetahui keberadaannya melalui penjelasan di teks-teks peninggalan Asiria.[12]

Akses dan verifikasi

Hanya pejabat-pejabat tinggi negara yang dapat menggunakan sistem ini. Profesor Sejarah Timur Dekat Kuno Karen Radner memperkirakan ada sekitar 150 pejabat tinggi yang dapat mengirim pesan dengan fasilitas ini.[12] Tiap-tiap mereka memiliki cap kerajaan yang digunakan untuk menandai surat yang mereka kirim, sehingga suratnya bisa diverifikasi oleh penerima surat walaupun dibawa oleh tentara biasa yang tidak ia kenal.[12] Cap ini bergambarkan raja Asiria yang sedang berkelahi dengan singa yang berdiri menggunakan kaki belakangnya.[13] Cap ini dikenali diseluruh kerajaan,[13] dan hanya surat dengan tanda ini yang boleh dikirim dengan fasilitas negara.[8]

Kecepatan

Radner memperkirakan bahwa surat yang dikirim dari provinsi Quwê (sekarang dekat Adana di Turki) di ujung barat kerajaan ke pusat kerajaan di Mesopotamia Utara, yang berjarak 700 km jika ditarik garis lurus dan melewati Sungai Eufrat, Tigris dan banyak sungai-sungai kecil yang tidak berjembatan membutuhkan waktu sekitar lima hari. Kecepatan pengiriman ini belum pernah tercapai sebelumnya. Bahkan berabad-abad setelah runtuhnya Asiria, kecepatan ini masih tidak terkalahkan hingga dibangunnya sistem telegraf oleh Turki Utsmani pada tahun 1865.[6][11]

Manfaat

Komunikasi cepat antara istana dan pemerintah daerah menjadi faktor penting untuk integrasi kerajaan Asiria dan mendukung dominasi kerajaan tersebut di Timur Tengah.[14] Profesor Sejarah Timur Dekat Kuno Mario Liverani mengatakan bahwa Asiria adalah sebuah "imperium komunikasi",[14] dan Karen Radner berpendapat bahwa sistem komunikasi yang dibangun Asiria "bisa jadi merupakan sumbangsih terpenting dari Asiria untuk ilmu pemerintahan" dan menjadi "alat baku dalam pemerintahan kerajaan besar".[15]

Sistem yang ditemukan Asiria ini kelak akan diadopsi kerajaan-kerajaan besar lainnya.[16] Infrastruktur yang dibangun Asiria akan diwarisi dan dikembangkan oleh Kekaisaran Persia yang kelak menguasai Timur Tengah.[17] Sistem ini juga menjadi dasar sistem Pony Express pada abad ke-19 di Amerika Serikat.[18] Dalam sistem ini, Asiria juga pertama kalinya mengirimkan surat melalui kurir biasa dan bukan utusan atau duta khusus yang dikenali dan dipercaya kedua belah pihak.[7] Praktik menggukanan kurir tak dikenal yang dipelopori Asiria sampai sekarang masih dipraktekkan oleh sistem pos di seluruh dunia.[7]

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ Encyclopædia Britannica 2017.
  2. ^ Radner 2015b, hlm. 95.
  3. ^ a b c d Radner 2012, Road stations across the empire.
  4. ^ a b Radner 2012, The original hybrid transport technology.
  5. ^ Radner 2018, 0:07.
  6. ^ a b c d e f Radner 2015, hlm. 64.
  7. ^ a b c Radner 2018, 4:20.
  8. ^ a b c Radner 2018, 13:06.
  9. ^ Kessler 1997, hlm. 130.
  10. ^ a b c d e Radner 2015, hlm. 63.
  11. ^ a b Radner 2012, Making speed.
  12. ^ a b c Radner 2015, hlm. 65.
  13. ^ a b Radner 2012, Authorisation needed.
  14. ^ a b Kessler 1997, hlm. 129.
  15. ^ Radner 2012, paragraf 1.
  16. ^ Radner 2015, hlm. 68.
  17. ^ Bertman 2003, hlm. 254.
  18. ^ Bertman 2003, hlm. 210.

Daftar pustaka